Kamis, 05 Oktober 2017

Hari Santri 2017, 'WAJAH PESANTREN WAJAH INDONESIA'

Dalam memperingati hari Santri 2017, Pemerintah dalam hal ini Kemeterian Agama menyelenggarakan berbagai kegiatan yang produktif diantaranya; Lomba Komik dan Kartun Stip, Malam Pembacaan Puisi Santri “Ketika Kiai_Nyai-Santri Berpuisi: Pesantren tanpa Tanda Titik”, Santri Enterpereuner Competition, Shalawat Kebangsaan dan Konfigurasi MOP Santri untuk Negeri, Pemecahan Rekor Muri Komik Santri Terpanjang (300 M), Upacara Bendera dalam rangka hari Santri, Santri Writer Summit, Pesantren Expo dan Musabaqoh Qiroatul Kutub (MQK) Nasional. kegiatan-kegiatan tersebut dimaksud untuk dapat menyebarluaskan efek positif Hari santri yang tahun ini merupakan tahun ke 3 (tiga) setelah Presiden Jokowi mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 22 tahun 2015 terkait Hari Santri Nasional. Dengan Keppres tersebut, keberadaan Santri teruatam di Indonesia "diakui" oleh pemerintah dari segi Regulasi. karena memang Santri sejak dulu, sebelum Negara ini ada, Mereka bukan hanya ngaji di Pesantren, juga turut andil dalam kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

'Santri adalah muslim pembelajar sekaligus barisan patriotik yang mencintai negeri. Dalam jiwa santri, ke-islaman dan ke-indonesiaan telah menjadi satu tarikan nafas yang tak terpisahkan', itulah definisi Santri yang secara bersamaan, dalam satu tarikan nafasannya antara menuntut ilmu (Ngaji) dan menjaga keutuhan NKRI adalah suatu kewajiban.

untuk itu, tema Hari Santri 2017 'WAJAH PESANTREN WAJAH INDONESIA', dimana tema tersebut tergambarkan dalam logo sebagai berikut:


Logo Hari Santri 2017

" BALUTAN WARNA MERAH PUTIH DAN PETA INDONESIA MENYERTAI TULISAN HARI SANTRI 2017 DAN 'WAJAH PESANTREN WAJAH INDONESIA' MENGGAMBARKAN BAHWA SANTRI SEBAGAI SALAH SATU BAGIAN DARI ELEMEN BANGSA PENJAGA KEUTUHAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI) DARI SABANG SAMPAI MERAUKE. SANTRI DALAM KONTEKS LOGO HARI SANTRI 2017 INI ADALAH MASYARAKAT YANG CINTA TANAH AIR, BERJIWA KESEDERHANAAN, DAN BERJIWA PATRIOT YANG TERUS DIGELORAKAN"

demikian tulisan ini dibuat, semoga bermanfaat.

Kamis, 20 Juli 2017

Satuan Pendidikan Muadalah Pada Pondok Pesantren

Berbicara tentang jenis-jenis pendidikan yang ada di Indonesia mungkin masih banyak yang belum memahami betul, termasuk penulis sendiri, terkait hal dimaksud. Sebagai informasi, ada Jenis Pendidikan Umum, ada juga Jenis Pendidikan Umum berciri khas Islam, juga ada Jenis Pendidikan Keagamaan Islam. Pada Kesempatan ini, fokus saya mengenai Jenis Pendidikan Keagamaan Islam seperti yang tertuang dalam Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 13 Tahun 2014. Pada Pendidikan Keagamaan Islam ini, lebih spesifik lagi, saya hanya menginformasikan Satuan Pendidikan Muadalah yang merupakan Pendidikan Formal yang diselenggaakan Pesantren dan termasuk dalam kategori Jenis Pendidikan Keagamaan Islam. Lebih lanjutnya mengenai Satuan Muadalah, Apakah Satuan Pendidikan Muadalah itu? dimana dan bagaimana penyelenggaraannya? Seperti Apa jenis, kurikulum, pendidik, peserta didik Satuan Pendidikan tsb? Akan dijelaskan secara singkat pada penjelasan berikut. Semoga bermanfaat.

Selasa, 18 Juli 2017

Cara Membayar Kartu Kredit MNC Menggunakan ATM Bank BCA (Real Time)

Kartu Kredit menjadi sangat populer dikalangan masyarakat saat ini. fasilitas dan manfaat yang ditawarkan menjadi nilai plus bagi penggunanya. Namun, jika anda menggunakan Kartu Kredit, harus bisa cermat dan cerdas. Termasuk dalam hal pembayaran


Jenis Kartu Kredit MNC

Pembayaran Kartu Kredit yang sifatnya Real Time, nyatanya, membutuhkan langkah-langkah yang beragam. bisa jadi, beda bank, akan beda pula cara pembayarannya. berikut saya akan berbagi Cara membayar Kartu Kredit MNC Menggunakan ATM Bank BCA.

1. Buka ATM BCA

2. Pilih Menu Pembayaran

3. Pilih Lain-lain

4. Masukan Kode MNC 720-124

5. Tekan 'BENAR', kemudian

5. Masukan 16 Digit Nomor Kartu Kredit MNC anda

6. Tekan 'BENAR', kemudian

7. Isi Nominal Yang Akan Anda Bayar,

8. Selesai


Demikian, semoga bermanfaat.

Cara Membayar Kartu Kredit Danamon Menggunakan ATM Bank Mandiri

Kartu Kredit menjadi sangat populer dikalangan masyarakat saat ini. fasilitas dan manfaat yang ditawarkan menjadi nilai plus bagi penggunanya. Namun, jika anda menggunakan Kartu Kredit, harus bisa cermat dan cerdas. Termasuk dalam hal pembayaran

Jenis-Jenis Kartu Kredit Danamon

Pembayaran Kartu Kredit yang sifatnya Real Time, nyatanya, membutuhkan langkah-langkah yang beragam. bisa jadi, beda bank, akan beda pula cara pembayarannya. berikut saya akan berbagi Cara membayar Kartu Kredit Danamon Menggunakan ATM Bank Mandiri.

1. Buka ATM Mandiri

2. Pilih Menu Transfer

3. Masukan Kode bank 011-8-7777777 (angka 7 tujuh kali)

4. Masukan No Referensi dengan memasukan 16 digit Nomor Kartu Kredit anda

5. Masukan Jumlah nominal yang akan anda bayar

6. Selesai dan simpan Bukti Pembayaran tersebut.


demikian, semoga bermanfaat.

Rabu, 12 Juli 2017

Cara Membayar Tilang Motor Daerah Jakarta Timur

Kelengkapan surat berkendara merupakan kewajiban yang harus dibawa oleh pengendara ketika hendak bepergian. sura-surat tersebut meliputi STNK dan SIM (Surat Izin Mengemudi). tentu, selain surat-surat juga harus menaati rambu-ambu lalu lintas agar terciptanya berkendara yang aman dan tertib lalu lintas.
namun, apabila saat berkendara kita kena 'apes bin sial' kena Penilangan. entah itu karena STNK atau SIM ketinggalan atau tidak dibawa, tidak perpanjangan, atau melanggar rambu lalu lintas tentu harus menanggung konsekuensi berupa denda. lebih baik, jangan merayu atau menerima 'damai', kita selesaikan hukuman tersebut dengan gentle. salah satunya membayar denda sesuai keputusan Pengadilan Negeri setempat.
singkat cerita, hari sabtu tanggal 10 Juni 2017. di daerah pasar Rebo sedang dilakukan Operasi Tertib lalu Lintas. sayangnya, saya kurang beruntung tidak sempat 'melipir' untuk menghindari penilangan tersebut. polisi juga pintar menempatkan posisi penilangan pas tikungan. jadi banyak juga yang tidak menduga. hehe
pelan-pelan saya mengendarai motor sambil baca solawat semoga tidak terlihat oleh para polisi. Alhamdulillah, bacaan solawat saya terdengar oleh pak polisi. seketika itu juga saya disuruh berhenti dan terjadilah perckapaan sebagai berikut.
polisi: selamat siang pak, mohon tunjukan STNK dan SIM nya?
saya : ini pak ada semua kok (sambil menunjukan STNK dan SIM saya)
polisi: STNK dan SIM memang ada. tapi maaf, SIM bapak sudah jatuh tempo sejak 2015 dan belum diperpanjang. untuk itu, kami lakukan penilangan.
 sambil mengeluarkan surat tilang dan mencatat biodata saya, setelah itu pak polisi memberikan Surat Tilang yang berwarna Biru.

 Slip warna biru surat Tilang

setelah mendapatkan Surat Tilang, sekitar 1 bulan kita menunggu vonis dari hakim berapa denda pasti yang harus kita bayar di bank. sebagai contoh, disurat tilang untuk Pelanggaran SIM, ditulis di angka Rp. 250.000. namun denda umumnya dibawah nominal tersebut.

jujur, ini pertama kali saya ditilang dan harus mengurusi pembayaran denda. Makanya, saya dibuat pusing dan cukup mengeluarkan energi dan waktu karena tidak mengetahui persis bagaimana cara pembayaran Tilang yang baik, benar dan tepat. untuk itu saya akan share terkait hal ini sesuai pengalaman saya.

Tertulis disurat tilang, 'Mewajibkan terdakwa untuk menghadiri sidang di Pengadilan Negeri Pulogebang, jakarta Timur pada hari Jum'at tanggal 7-7-2017.
Faktanya, kita tidak harus/ tidak diwajibkan untuk menghadiri sidang tersebut, cukup membuka situs tilang.pn-jakartatimur.go.id (khusus penilangan Wil. Jakarta Timur) untuk memudahkan mengetahui vonis denda yang harus kita bayar. cukup membuka situs tersebut dan kita mengetik nomer plat motor kita atau no register yang terdapat dipojok atas Surat Tilang dan denda yang harus dibayar akan langsung muncul.

no register
Banyak petualangan yang saya alami ketika harus membayar denda tilang. karena ini pertama kalinya bagi saya dan kurangnya info yang pasti. apakah harus dibayar lewat bank atau ATM. dan kalo lewat bank, apakah semua bank bisa atau bank tertentu saja. selanjutnya, kalo dibayar lewat bank tertentu, apa semua Kanca atau cabang dari lintas daerah apa apa ada Bank cabang tertentu?
semua pertanyaan diatas akir nya terjawab ketika saya mencari tahu melalui proses nya lumayan panjang, lelah namun pelajaran yang bermanfaat.

dimulai apakah harus dibayar lewat bank atau ATM?
Sebenarnya pembayaran Tilang, bisa dibayar lewat bank maupun ATM namun ada kriteria khusus Bank atau ATM nya. jika hendak dibayar lewat Bank, Bank harus BRI. Jika lewat ATM pun harus menggunakan ATM BRI dan anda diharuskan mengetahui no BRIVA. nomer BRIVA sendiri katanya diberikan oleh polisi yang menilang. kalo waktu itu nomer briva saya tidak ada. jika tidak ada nomer BRIVA, lebih baik pembayaran denda Tilang melalui Bank BRI saja. untuk wilayah Jakarta Timur, hanya bisa dibayar pada Bank BRI Jl. Otto Iskandardiata No. 72, Jakarta Timur. atau tepatnya sebelah halte Gelanggang Olahraga sebelum Terminal kampung melayu kalo dari Cawang. tiap wilayah hanya ada 1 Bank BRI Cabang sebagai tempat pembayaran Denda Tilang.
mohon share no rek BRI untuk pembayaran Denda Tilang Wilayah Jakarta Timur 0340-01-000428-30-7. untuk memastikan no rek tersebut, anda bisa datang lamgsung ke Bank BRI cabang dimana tempat anda tertilang.
menurut pengakuan petugas keamanan, lewat ATM pun bisa. di Menu Transfer pilih antar bank bri, kemudian ketik no rek tersebut. penulis belum tahu, apakah bisa menggunakan ATM selain BRI, karena tidak pernah mencoba. tks

setelah proses pembayaran denda dilakukan, bukti pembayaran tersebut anda berikan ke Polres dimana anda kena tilang, atau jika menggunakan ATM, bukti transfer anda tukarkan dengan slip kuning ke teller bank BRI, kemudian tunjukan ke Polres setempat untuk ditukarkan dengan Surat kendaraan yang ditahan sewaktu kena tilang. demikian

pengalaman ini saya tulis sesederhana mungkin, untuk sharing informasi. semoga bermanfaat

Selasa, 09 Mei 2017

TRADISI TILAWAH AL-QUR’AN


Sidang Jum’at rahimakumullah

Al-Qur’an merupakan firman Allah. Membacanya, walaupun belum paham artinya tetap mendatangkan pahala. Wajar umat Islam pada umumnya berusaha membaca Al-Qur’an, terutama dipesantren. Di pesantren, para santri membaca Al-Qur’an dan belajar cara membacanya dengan baik. Kalaupun di tempat tinggalnya sebelum mesantren seorang santri sudah belajar membaca Al-Qur’an sampai khatam, namun di pesantren tetap belajar lagi. Dapat dikatakan, belajar membaca Al-Qur’an di pesantren lebih fasih daripada di tempat belajar sebelumnya. Untuk belajar Al-Qur’an dengan benar dan baik saja kadang dibutuhkan waktu satu minggu sampai tiga bulan tergantung santri yang belajar. Hal ini dapat dipahami bila kita melihat budaya daerah yang mempengaruhi cara baca bahasa arab bagi yang masih belajar. Orang Jawa yang belum mengerti misalnya, menyebut dulhamid dengan dulkamid. Bahkan masih ada imam solat yang membaca Al-Hamdu dengan Al-Kamdu. Orang Tiongkok berdasarkan pengalama Ustadz Alifudin, da’i Tiongkok, bagi yang belum bisa ngaji, membaca ra dengan la, sehingga bunyi Allahu akbar menjadi Allah akbal. Dan orang sunda yang belum fasih sering membaca fa dengan pa, sehingga lafadz fa shalli dibaca dengan pa shalli. Untuk memperbaiki hal tersebut butuh waktu, latihan dan kesabaran.

Membaca Al-Qur’an merupakan tradisi di pesantren. Pesantren memfasilitasi bagi yang mau belajar membaca Al-Qur’an, minimal ba’da maghrib dan ba’da shubuh. Alunan suara orang yang membaca Al-Qur’an terdengar akrab di pesantren. mengenai membaca Al-Qur’an ini, marilah kita mengenang kiyai Moenawir Krapyak, Yogyakarta. Kiyai Moenawir sebelum berusia delapan tahun telah membaca Al-Qur’an sampai khatam. Hal ini diawali oleh tantangan ayahnya untuk menghatamkan Al-Qur’an dalam waktu seminggu dengan hadiah Rp 150,-. Ia ternyata berhasil, dan sejak itu istiqomah menghatamkan Al-Qur’an seminggu sekali. Ketika berusina 10 tahun ia mesantren di Madura. Kiyai Kholil Bangkalan memerintahkannya untuk menjadi Imam shalat berjamaah, sementara ia sendiri menjadi makmumnya. Setelah belajar di Madura, Kiayai Moenawir mengaji kepada beberapa ulama besar seperti Kiyai Sholeh Darat Semarang dan Kiayai Abdurrahman Watucongol, Magelang.

Setelah mengaji di bebrapa pesantren, pada tahun 1888, kiayi moenawir bermukim dan beljar di tanah Suci selama 21 tahun, dimana selama 16 tahun pertama, ia khusus mempelajari dan mempelajari Al-Qur’an beserta cabang-cabang keilmuannya. Di Mekah, beliau antara lain mempelajari tahfidz (penghafalan), tafsir, dan qiraah sab’ah (tujuh gaya bacaan) kepada Syekh Abdullah Sungkoro, Syekh Sarbini, Syekh Mukri, Syekh Ibrahim Huzaimi, Syekh Manshur, Syekh Abdul Syuku, dan Syekh Mustofa. Karena kecemerlanganya dalam mengaji, Syekh Yusuf Hajar, guru qiraah sab’ah, memberinya ijazah sanad qiraah yang bersambung hingga Rasulullah, sesuatu yang jarang terjadi. Dalam sanad silsilahnya qiraah tersebut ia berada di urutan ke -35. Ia juga mendapat sanad lain dari Syekh Abdul Karim bin umar Al-Badri Ad-Dimyathi.

Seorang sedang Membaca Al-Qur'an di KRL (source from google)

Disebutkan, ia juga melakukan riyadhah (penggemblengan diri dengan memperbanyak ibadah dan melakukan amal shalih) berjenjang: tiga (3) tahun pertama menghatamkan Al-Qur’an setiap tujuh (7) hari; tiga (3) tahun kedua menghatamkan Al-Qur’an tiga hati sekali; dan tiga (3) tahun ketiga mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari. Riyadhah tersebut ditutup dengan membaca Al-Qur’an tanpa henti selama 40 hari 40 malam, sehingga mulutnya terluka dan berdarah. Demikian majalah Al-kisah pernah menceritakan selintas riwayat hidupnya.

Bandingkan Kiyai Moenawir yang sering mengkhatamkan Al-Qur’an dengan kita! Umat silam masih banyak yang belum dapat membacanya saja masih belum mampu. Beruntunglah bagi mereka yang masih mau dan tidak malu belajar a ba ta tsa, sekalipun usianya sudah lansia. Berapa banyak yang masih belum dapat membaca Al-Qur’an? Berapa banyak pula orang yang sudah dapat membaca Al-Qur’an, namun lupa untuk membacanya? Kalau tidak percaya, coba ketuk pintu umat Islam. Pinjamkan Al-Qur’an kepadanya. Sebelum Al-Qur’an dibuka dan dibaca, tiup dulu covernya. Apa yang terjadi? Kalau debu-debu beterbangan, berarti Al-Qur’an tersebut hanya disimpan dan jarang dibuka dan dibaca. Berapa banyak orang yang menjadikan Al-Qur’an sebatas benda bersejarah, sekedar kenang-kenangan atau mas kawin saat akad nikah. Menyedihkan.

Siding Jum’at yang dirahmati Allah

Allah SWT berfirman, yang artinya:”Berkatalah Rasul:”Ya Tuhanku, sesunggguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan”. (QS. Al-Furqan:30)

Diantara makna dari mengacuhkan, meninggalkan dan menelantarkan Al-Qur’an ialah tidak membacanya. Belajarlah dari kiyai Moenawir Krapyak. Belajarlah dari para sahabat Rasulullah. Mereka banyak yang mengkhatamkan Al-Qur’an seminggu sekali. Rasulullah memerintahkan Abdullah bin Amr mengkhatamkan Al-Qur’an seminggu sekali. Begitu pula para sahabat lainnya: Utsman. Zaid bin tsabit, Ibnu mas’ud, dan Ubai bin Ka’ab ra. Bagi yang belum mambacanya, maka hendaklah terus belaja memvaanya. Nabi Saw bersabda, yang artiya:”Orang yang mahir membaca Al-Qur’an bersama para malaikat yang mulia dan taat. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata (masih belajar), maka baginya dua (2) pahala.” (HR. Muslim).

Berbahagialah orang yang mambaca Al-Qur’an. Berbahagialah orang yang mendengarkan dan menyimak Al-Qur’an. “Apabila dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang maha pemurah maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam:58). Pernahkan kita menangis saat membaca Al-Qur’an?  Mengapa sulit menangis saat membaca Al-Qur’an? Adakah Al-Qur’an telah kehilangan daya mukzijatnya? Tidak adakah ayat Al-Qur’an yag dapat mengguncang hati kita? Ataukah ada debu dosa yang tebal yang menyelimuti hati kita, sehingga cahaya Al-Qur’an belum dapat menembus nurani kita?

Bacalah Al-Qur’an. orang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti buah yang harum baunya dan lezat rasanya. Sedangkan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an sekalipun tetap enak rasanya, namun tidak ada aroma harumnya. Adapun orang munafik yang membaca Al-Qur’an, sekalipun harum baunya, namun pahit rasanya.  Apalagi orang munafik yang membaca Al-Qur’an tidak ada harus dan pahit rasanya.

sejumlah orang sedang mendaras Al-Qur'an (source from google)

Sidang Jum’at rahimakumullah

Dalam membaca Al-Qur’an, ada beberapa tujuan, yaitu:

1.       Meraih Ilmu

Allah SWT berfirman, yang artinya:”Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya memperhatikan ayat-ayat Nya dan supaya mendapatkan pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shad:29)
Hasan Al-Bashri berkata,”Tidaklah Allah turunkan satu ayat, melainkan Dia ingin memberitahukan untuk apa ayat tersebut diturunkan dan apa yang Dia kehendaki.” Meraih ilmu saat membaca Al-Qur’an hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang menguasai bahasa Arab atau minimal memahami terjemahannya. Bila kita belum mendapatkan ilmu atau inspirasi saat membaca Al-Qur’an, hendaknya tetap membacanya, karena tetap diberi pahala dan berkah. Pahala satu (1) huruf yang kita baca adalah sepuluh (10) hasanah (kebaikan). Kaidah fikih menyebutkan, yang artinya:”Apa yang tidak dapat diraih semuanya, hendaknya tidak ditinggalkan semuanya.”

Dengan  kata lain, lakukan saja apa yang dapat dilakukan, sekalipun belum maksimal. Kalau tidak dapat menangkap ikan besar, maka jangan meninggalkan Ikan Teri.

2.       Mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an

Ali bin Abi Thalib ra berkata,”Wahai para pembawa Al-Qur’an atau pembawa ilmu, ketahuilah bahwa yang disebut ‘alim (orang berilmu) adalah yang mengamalkan apa yang ia ketahui dan ilmunya dan sesuai apa yang ia amalkan.” Hasan bin Ali berkata,”Bacalah Al-Qur’an sampai Ia dapat mencegahmu. Bila ia tidak bisa mencegahmu,, maka berarti yang engkau lakukan bukanlah membaca Al-Qur’an.”Amalkan ayat-ayat Al-Qur’an dalam keseharian. Ibnu Katsir menjelaskan orang yang menelantarkan Al-Qur’an ialah orang yang tidak mendengarkan, tidak mengimani (tidak membenarkan), tidak memahami, tidak merenungkan dan tidak mengamalkannya. Tidak menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, dan berpaling dari Al-Qur’an menuju syair, lagu, dan ajaran yang bertentangan dengan Al-Qur’an (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adziem, Juz III, hal.317).

Rasulullah Saw bersabda,”siang dan malam telah berakir (telah tiba hari kiamat). Lantas seseorang meletakan mushaf di hadapannya. Ia membolak balik lembaran mushaf, namun lembaran-lembaran itu malah melaknat orang tersebut. Setiap kali dia membaca sebuah ayat, maka ayat itu melaknat dirinya. Setiap kali dia mengucap satu (1) huruf ayat, maka huruf itupun melaknatnya.” Rasulullah ditanya,”Mengapa bisa demikian ya Rasululallah?”

Beliau menjawab,”Setiap dia membaca ayat yang menerangkan keharaman khamr dan perjudian," maka ayat itu berkata,”Dia pembohong. Semoga Allah melaknatnya. Sebab dia tidak menjauhi khamr dan perjudian.”Ketika dia membaca ayat mengerjakan Haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah, maka ayat itu akan berkata,”Dia pembohong. Semoga Allah melaknat orang itu. Sebenarnya orang itu mampu untuk menunaikan haji. Namun, dia tidak menunaikannya.”Setiap kali dia membaca ayat yang tidak dia kerjakan kandungannya, maka ayat itu akan selalu melaknatnya.”

3.       Bermunajat kepada Allah

Maksud munajat adalah membaca Al-Qur’an dengan hidup dan menyadari apa yang dibaca. Ketika melewati satu ayat yang berisi tasbih, maka bertasbih. Ketika melewati ayat yang berisi permohonan, maka memohonlah. Ketika melewati ayat yang berisi perlindungan, maka mohonlah perlindungan.”Al-Qur’an adalah surat dari Allah untukmu yang disampaikan melalui lisan Rasul-Nya.”(Ibnu Qayyim). Seandainya kita mendapat surat dari orang yang kita cintai, tentu kita akan membacanya berulang-ulang. Ada kerinduan saat kita membacanya. Bahkan saat membuka sampul suratnya pun, detak jantung kita sudah berpacu, perasaan kita bergelora, dan rasa rindu dan ingin tahu yang tak terahankan. Saat membacanya kita fokus. Mata dan pikiran kita tertuju hanya pada isi surat yang sedang kita baca. Setelah membacanya, kita ingin membacanya lagi, lagi, dan lagi. Al-Qur’an adalah kiriman surat dari Allah Al-Mahbub (yang dicintai), yang kita puji karena kebaikan dan nikmat-Nya yang berlimpah ruah. Nikmat Tuahn mana lagi yang kau nafikan? Membaca Al-Qur’an seakan kita berhadapan dengan Allah.

4.       Meraih Pahala

Aisyah ra berkata, Rasulullah Saw bersabda,”Seorang yang mahir dengan Al-Qur’an, maka ia bersama malaikat yang mulia dan selalu berbuat kebajikan. Orang yang membaca Al-Qur’an dan terbata-bata dalam membacanya sedang ia merasa kesulitan, maka ia mendapatkan dua (2) pahala.”Hikmah Al-Qur’an itu berpahala, sekalipun belum diketahui artinya antara lain adalah menjaga keasliannya karena orang yang terdorong membacanya walaupun belum memahami artinya. Khalid bin Ma’dan berkata,”sesungguhnya oang yang membaca Al-Qur’an mendapatkan satu (1) pahala dan orang yang mendengarkannya mendapatkan 2 (dua) pahala.”Qatadah berkata,”Tidaklah orang duduk membaca Al-Qur’an, kemudian bangun, melainkan mendapatkan tambahan dan pengurangan. Kemudian dia membaca,”Dan kami turunkan Al-Qur’an sebagai obat dan kasih sayang bagi orang-orang yang beriman da tidak akan menambahkan bagi orang-orang zalim, selain  kerugian.”

Tasbit bin Ajlan Al-Anshari berkata:”Sesungguhnya Allah akan menurunkan azab kepada penghuni bumi, namun tatkala mendengar anak-anak belajar Al-Qur’an, maka dipalingkannya dari mereka.”

5.       Mencari Kesembuhan

Obat terbaik adalah Al-Qur’an,”Sabda Nabi Saw. Bila hati kita lesu, iman kita melemah dan jiwa kita gundah, maka bacalah Al-Qur’an. Bila fisik kita sakit, berobatlah dan minum air sambil membacakan Al-Fatihah. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah murid Imam Ibnu Taimiyah sering melakukan pengobatan dengan membaca Al-Fatihah dan membuktikan kemanjurannya.

Sidang Jum’at rahimakumullah


Demikian semoga memberikan hidayah dan taufik kepada kita, sehingga dapat membaca Al-Qur’an siang dan malam, pagi dan sore. Kalau kita merasa rugi bila dalam satu hari tidak membaca berita Koran atau internet, maka mengapa tidak merasa rugi bila satu hari terlewatkan membaca Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an merupakan tradisi Nabi saw dan para sahabatnya. Tradisi para kiyai dan santrinya dan tradisi kita semua, umat Islam dimanapun dan apapun profesinya. Wa Allahu a’lam bi Ash Shawab
(diambil dari buku 'khutbah Jum'at Pesantren, Kementerian Agama RI)

Senin, 08 Mei 2017

KARAMAH MENGAKRABI AL-QURAN

Cover depan Al-Qur'an (source Google)
Al-Qur’an penuh dengan hikmah. Di dalam Al-Qur’an ada kebijaksanaan dan miracle (sesuatu yang luar biasa dan menakjubkan). Sahabat Nabi SAW bernama Usaid bin Hudhair melihat 2 (dua) gumpal cahaya turun dari langit, sementara kudanya terus meringkik dan bergerak-gerak. Ketika hal itu diceritakan kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda,”Dua gumpal cahaya itu adalah dua (2) malaikat yang mendekatimu karena ingin mendengar bacaan Al-Qur’an mu.” Abdullah bin Mas’ud punya pengalaman lain. Ia membacakan suatu ayat ke telinga orang gila, yang kemudian langsung sembuh. Rasulullah Saw yang melihat kejadian itu langsung bertanya,”Ayat apa yang kaubacakan?”
 Abdullah bin Mas’ud membacakan ayat 115 Surat Al Mukminun yang Artinya: "Apakah kamu mengira Kami menciptakan kamu secara main-main, dan kamu tidak akan di kembalikan kepada kami?

Rasulullah Saw bersabda,”Jika ayat itu dibacakan kepada sebuah bukit dengan Himmah (konsentrasi yang kuat), niscaya bukit itu bisa berpindah.”Al-Qur’an memang berfungsi sebagai obat, baik bagi jika maupun fisik.

Al-Qur’an itu mulia dan orang yang mendekatinya menjadi mulia. Orang yang selalu membaca Al-Qur’an , belajar untuk memahami, menghapal dan mengamalkannya, maka hidupnya menjadi mulia. Mulia bisa berarti dihormati dan tidak direndahkan orang. Mulia juga di hadapan malaikat. Rumah yang selalu dibacakan Al-Qur’an terlihat oleh Al-Qur’an bercahaya. Adapun  rumah yang tidak dibacakan Al-Qur’an di dalamnya, maka terlihat gelap oleh malaikat. Semakin sering kita membaca Al-Qur’an didalam rumah, maka cahaya rumah tersebut menjadi semakin benderang dalam pandangan para malaikat. Menakjubkan.

Suatu ketika di Mekah di berlakukan peraturan untuk kuburan yang sudah mencapai batas wakt tertentu, dan diantaranya makan Syekh Nawawi Banten yang karyanya banyak dikaji di pesantren. ketika makam Syekh Nawawi digali ternyata jasadnya masih utuh dan kondisinya tetap seperti ketika pertama kali dimakamkan. Padahal udara disana sangat panas, mestinya mayat cepat hancur.  Makamnya pun akirnya tidak diganggu.

Jasad Sayid Ali Al- ‘Uraidy, seorang ulama besar yang menurunkan banyak habib yang kemudian hijrah dan bermukim di Indonesia, ketika digali kuburannya juga masih tetapi utuh. Begitu juga dengan  tubuh Syekh Ibnu Hajar AL-Haitami, ahli fiqh abad pertengahan dan tubuh sayid Amin al-kutbi, ulama besar ahli tasawuf, guru besar di Haramain (Mekah-Madinah) sekitar Tahun 1945.
Al-Qur'an dan Tasbih (source Google)

Kiyai umar, murid kiyai Moenawir, setelah empat (4) tahun meninggal dunia mendatangi kemenakannya melalui mimpi. Kiyai Umar yang hafal Al-Qur’an meminta agar kemenakannya memperbaiki selimutnya. Usai shalat subuh, kemenakannya yang bernama kyai Rozaq segera berziarah ke makam pamannya, kiyai umar. Ternyata sebagian makam tersebut amblas karena terguyur air hujan, dan kain kafanya terkoyak. Artinya, almarhum masih berkomunikasi, dan kain kafannya belum hancur, hanya terkoyak.

KH muntaha, pengasuh pondok pesantren Asy-‘ariyah, Kalibeber, Wonosobo dalam kudeta G 30S/PKI termasuk salah seorang yang akan diculik. Namun anehnya, ketika para pencuik menyatroni rumahnya di komplek pesantren, KH MUntaha tidak ditemukan. Padahal, ketika itu beliau tengah duduk diruang tamu sambil memperhatikan para penculik yang menggeledah rumahnya. Karomah tersebut diberikan oleh Allah kepada para kiyai penghafal Al-Qur’an, karena mereka selalu istiqomah men- daras Al-Qur’an dalam berbagai aktifitas, seperti jalan-jalan duduk, menemui tau, dan lainnya.

Orang-orang ayng akrab dengan Al-Qur’an diberi keamanan oleh Allah bukan hanya pada saat hidup, saat tubuh dan ruhnya masih menyatu, namun juga saat sudah meninggal dunia. Para penghafal Al-Qur’an tubuhnya tidak disentuh mulut cacing tanah, belatung, kalajengking, semut, dan lainnya. Bahkan, ada juga yang saat digali tubuhnya bukan hanya masih utuh, namun dalam posisi sujud kepada Allah. Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya.
Al-Qur’an ini menakjubkan. Seorang perawi hadits yang tuli tidak bisa mendengar apa-apa, tetapi ia dapat mendengar orang yang membaca Al-Qur’an dengan sangat jelas. Salah seorang ustadz ketika habis kontrakan melihat salah satu villa di Bandung ada sebuah rumah yang ditandai mau dijual. Ia menanyakan harganya. Pemilih rumah itu menjawab:”165 Juta rupiah, tetapi kalau ustadz berminat silahkan 80 juta”. Ustadz ini setuju, ia mendapat pinjaman dari orang tuanya untuk DP (down Payment). Kekurangannya, Ia juga masih bingung darimana uang untuk membayarnya? Ia tetap bekerja dan tetap riyadhah. Ia bertekad akan menghatamkan Al-Qur’an setiap minggu sekali selama tiga (3) bulan. Biar do’a mustajab dan ces pleng. Setelah ia mengkhatamkan Al-Qur’an sebnayak 4 kali, Alhamdulillah, diberi kemudahan oleh Allah sehingga dapat melunasinya.

Hadirin yang berbahagia

Untuk akrab dengan Al-Qur’an, setidaknya bacalah selalu Al-Quran. Bacalah dengan adab. Belajarlah dengan Imam malik yang ketika akan membaca hadits Rasulullah Saw, menyisir rambutnya terlebih dahulu, mengenakan baju yang rapih dan dilengkapi dengan olesan minyak wangi, setelah itu duduk dengan sopan dan mulai memulai membaca hadits nabi Saw. Adapun adab dalam membaca Al-Qur’an ialah sebagai berikut:

1.    Hendaklah berwudhu untuk membersihkan lahir dan batin. Dengan berwudhu, maka dosa-dosa kecil akan berguguran dari mata, telinga, tangan, kaki, mulut, dan sebagainya. Disamping tentu saja, ada kesegaran karena setuhan air kedalam kulit dan ada kesejukan dan fresh

2.    Tempat duduk yang bersih dan suci, seperti masjid. Mulut juga hendaknya bersih. Diutamakan gigi disikat terlebih dahulu biar terasa enak dan bersih

3.    Menghadap kiblat

4.    Ta’awudz atau meminta pertolongan dari Allah dai godaan syetan yang terkutuk. Syetan pandai sekali menggoda manusia, termasuk memalingkan niat baik kita kea rah yang salah. Syetan dapat mengipas-ngipasi kita agar berbuat riya dengan bacaan Al-Qur’an kita, sehingga tidak dapat mendapatkan pahala dan ridha Allah. Syetan tidak dapat kita lawan sendirian, sebab ia tidak terlihat oleh kita, sementara kita dapat terlihat olehnya. Pekerjaan kita banyak, sementara pekerjaan syetan ialah satu menggoda kita agar jauh dari Allah. Kita tidak akan dapat selamat dari tipu daya syetan, kecuali jika Allah memberikan perlindungan-Nya kepada kita

5.    Membaca dengan tartil, yakni tenang, perlahan, tidak tergesa-gesa dan sesuai dengan ilmu tajwid

6.    Memahami dan manghayati bacaan dengan melakukan apa yang dikehendaki oleh ayat yang dibaca. Misalnya, saat membaca ayat tasbih, kita bertasbih. Membaca do’a dan istigfar, kita berdoa dan meminta ampun. Membaca ayat yang memceritakan siksa neraka, kita meminta perlindungan denga membaca “audzu billahi min Dzalik (aku memohon perlindungan dari hal itu). Membaca ayat yang menceritakan surga, maka berdoa Allahummarzuqna (Ya Allah, karuniakanlah kepadaku), dll

7.    Membaca nada dan suara yang merdu. Diutamakan membaca Al-Qur’an di akhir malam atau saat fajar, dan senantiasa diiringi do’a kepada Allah agar dikaruniai pemahaman atasnya

8.    Tidak menghentikan bacaan hanya karena hendak makan atau berbincang-bincang. Hentikan bacaan di tempat yang telah ditentukan. Dan lebih baik bila diakiri dengan do’a.

Bacalah Al-Qur’an sampai khatam. Bila sudah khatam, bacalah mulai dari awal lagi sampai khatam lagi dan terus berulang-ulang. Karena orang yang khatam Al-Qur’an do’a mustajab dan diamini 4000 malaikat. Sa’ad bin Abi Waqqas yang bidikan panahnya selalu tepat dan do’a nya selalu mustajab berkat do’a Nabi Saw kepadanya, berkata:”Siapa yang khatam Al-Qur’an pada waktu siang hari, maka malaikat mendo’akannya sampai sore hari. dan barang siap yang khatam Al-Qur’an pada waktu malam, maka malaikat mendo’akannya sampai pagi.” Nabi Saw juga menegaskan, “siapa yang embaca Al-Qur’an samai khatam, maka ia mempunyai do’a mustajab, baik langsung maupun yang ditangguhkan.” Menakjubkan. Karomah apakah yang lebih mustajab dari do’a yang mustajab? Dengan do’a mustajab, seseoarang dapat melakukan keajaiban keajaiban yang tidal dapat dijangkau dengan akal. Itulah pertolongan Allah yang melakukan apa yang dikehendaki-Nya.
 
Santri sedang mendaras Al-Qur'an didepan Ustadz (source google)
Hadirin yang dirahmati oleh Allah

Adaun hal-hal yang perlu kita perhatikan saat khatam Al-Qur’an ialah:

1.    Sunah berpuasa pada hari khataman berdasarkan Ibnu Abi Dawud
2.    Mengundang keluarga, kerabat, teman dan tetangga untuk menyaksikan khataman. Hal ini dicontohkan oleh sahabat Anas bin Malik. Tokoh tabi’in, Mujahid menceritakan, para sahabat berkumpul untuk khatam Al-Qur’an. Bila disertai dengan menyediakan hidangan tentu baik sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT, di samping demi menghormati tamu yang datang memberikan do’a restu
3.    Bertakbir sejak Surat Adh-Dhuha hingga surat terakir. Hal ini merupakan tradisi orang-orang Mekah dahulu. Hadits tentang ini diriwayatkan oelh Al-Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah menceritakan dari jalur Ibnu Abi Bazzah. Kata Ibnu Abi Bazzah, “Aku mendengar dari Ikrimah bin Sulaiman berkata,”Aku membaca Al-Qur’an pada Ismail bin Abdullah al-Makki berkata kepadaku,”Bertakbirlah sehingga tamat. Sesungguhnya aku membaca Al-Qur’an pada Abdullah bin katsir dan memerintahanku bertakbir hingga tamat.”Abdullah  bin Katsir berkata,”aku membaca di depan Mujahid. Dia juga memerintahkan hal itu.”Mujahid menceritakan bahwa dirinya membaca di depaan Abdullah  bin Abbas dan Abdullah bin Abbas memerintahkan hal yang sama. Abdullah bin Abbas juga menceritakan bahwa dirinya membaca Al-Qur’an di depan sahabat Ubai bin Ka’ab dan Ubai bin Ka’ab memerintahkan dirinya bertakbir ketika sampai pada surat Adh- Dhuha hingga surat terakir. Hadits ini juga diriwayatkan oleh al- Hakim. “Jika engkai tidak bertakbir, maka engkau telah kehilangan satu sunnah dari sunnah-sunnah Nabimu,” Demikian komentar Muhammad bin Idris Asy- Syafi’i. Bagaimana bentuk kalimat takbirnya, As-Syutuhi menyebutkan bahwa bentuk kalimat takbir yang dibuat menyela-nyela anatar surat ialah Allahu akbar la ilah illa Allah wa Alahu akbar. Tradisi yang berlaku umum kini ialah mengumpulkan dua (2) kalimat itu, yaitu Allahu akbar la ilaha illa Allah wa Allahu akbar
4.    Mengulang surat Al- Ikhlas yang berintikan tauhid sebnyak tiga (3) kali. Dimaksudkan untuk menambal catat atau kekeliruan yang dilakukan selama membaca Al-Qur’an
5.    Berkelanjutan, Rasulullah bersabda, yang artinya:”Sebaik-baik amal menurut Allah ialah amal yang begitu selesai (sampai pada tujuan) segera berangkat lagi, yaitu orang yang bergerak dari awal Al-Qur’an hingga selesai, dan setiap kali selesai dia memulai lagi.” (HR. Tirmidzi).
Ad-Darimi meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas dari Ubai bin ka’ab ra, sesungguhnya Nabi Saw bila usai membaca Qul ‘audzu birabbin naas (surat An-Nas) beliau menyusuli dengan membaca al-Hamdu (surat al-Fatihah), disusul kemudian dengan membaca surat Al-Baqarah hingga Ulaika hum al-muflihun (Surat Al- Baqarah ayat 5). Setelah itu beliau membaca do’a khatam Al-Qur’an dan selesai.
6.    Berdo’a. nabi SAW bersabda, yang artinya:”Barang siapa yang telah khatam membaca Al-Qur’an, maka dia memiliki do’a yang mujarab/mustajab.” (HR. Thabrani).

Di hadits lain juga disebutkan:”Pada saat khatam Al-Qur’an diyakini banyak rahmat diturunkan.” (Mujahid). Mengenai do’a apa yang dibaca setelah selesai atau khatam membaca Al-Qur’an tidak didapat pasti nash yang menerangkannya. Atas dasar itu berarti boleh berdo’a dengan do’a apa saja yang abik, agar dipenuhi hajat dunaiawi dan ukhrawi.

Hadirin yang dirahmati Allah


Demikian mudah-mudahan kita dapat akrab dengan Al-Qur’an, baik dengan menghapalkan maupun minimal merutinkan membacanya sampai khatam, baik seminggu sekali, sebulan sekali, dua bulan sekali, atau kurang dari itu, sehingga mendapatkan do’a mustajab dan diberi pertolongan oleh Allah SWT, amien. Wa Allahu a’lam  bi Ash-Shawab
(diambil dari buku 'khutbah Jum'at Pesantren, Kementerian Agama RI)